Jannah Theme License is not validated, Go to the theme options page to validate the license, You need a single license for each domain name.
Institut AIMSekolah Adab Untuk Sekolah

Pendampingan Awal Tahun An-Nahl Islamic School Ciangsana Bogor

Sekolah Adab Untuk Sekolah

BOGOR – Gedung An Nahl Islamic School yang terletak di kawasan Ciangsana, dekat Kota Wisata Cibubur, tampak lebih khidmat dari biasanya pada Kamis pagi (08/01/2026). Sekolah Islam yang dikenal dengan komitmennya terhadap kualitas pendidikan ini menggelar Daurah Adab bagi seluruh pendidik dan tenaga kependidikan (PTK).

Mulai pukul 07.30 hingga 10.30 WIB, aula sekolah dipenuhi oleh guru, staf, dan pimpinan sekolah yang menyimak paparan Dr. Wido Supraha, M.Si., Pendiri SekolahAdab.ID. Turut hadir dalam majelis ilmu tersebut Ketua Litbang An Nahl Islamic School, Ustadzah Dety Anggraini, M.E., Kepala HRD Ustadzah R. Noorbarani, serta jajaran Kepala Sekolah mulai dari jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA.

Filosofi An-Nahl vs. Al-Ankabut: Sebuah Refleksi Identitas

Dr. Wido membuka sesi pendalaman materi dengan mengajak seluruh civitas akademika untuk merenungi kembali nama besar yang disandang sekolah ini: “An Nahl”. Menurutnya, pemilihan nama ini membawa konsekuensi filosofis dan spiritual yang berat namun mulia. Ia mengupas perbedaan mendasar antara karakter Lebah (An-Nahl) dan Laba-laba (Al-Ankabut) dalam Al-Qur’an sebagai model etos kerja.

Allah SWT mewahyukan kepada lebah dalam Q.S. An-Nahl [16]: 68-69 untuk mengambil saripati terbaik dan menghasilkan madu yang menjadi obat bagi manusia.

Lebah adalah simbol profesionalisme sejati yang penuh berkah. Ia hanya hinggap di tempat yang bersih, hanya memakan yang thayyib (sari bunga), dan yang dikeluarkannya adalah madu yang bermanfaat (obat). Selain itu, lebah diberikan naluri hebat untuk membangun sarang berbentuk heksagonal (segi enam). Secara ilmiah, heksagonal adalah bentuk geometri yang paling kuat, stabil, dan efisien tanpa menyisakan ruang kosong (celah). Ini mengajarkan kita untuk membangun sistem kerja yang kokoh, solid, dan efisien, bukan sistem yang rapuh,” papar Wido.

Hebatnya lagi, saat hinggap di ranting, lebah tidak mematahkannya. Ini adalah simbol karyawan yang kehadirannya tidak merusak sistem, melainkan justru memperindah dan memberi manfaat bagi ekosistem.

Sebaliknya, Dr. Wido memberikan peringatan keras agar budaya kerja di An Nahl tidak meniru karakter Laba-laba (Al-Ankabut).

Jangan sampai kita bekerja seperti laba-laba. Allah menyebutkan dalam Q.S. Al-Ankabut [29]: 41 bahwa rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba. Sarang laba-laba dibangun bukan untuk memberi manfaat atau tempat bernaung yang aman, melainkan sebagai perangkap untuk memangsa. Sistem yang dibangun atas dasar intrik, saling menjatuhkan, dan kerapuhan visi adalah cerminan Al-Ankabut,” tegasnya.

Civitas An Nahl didorong untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta) sebagaimana lebah, bukan menjadi predator bagi sesama rekan kerja. Sangat baik sekali jika pendidik meneladani kehidupan lebah (An-Nahl) karena filosofinya sangat relevan dengan peran seorang Muaddib. Berikut adalah alasan utamanya:

  1. Hanya Mengambil yang Baik (Input Berkualitas)
    Lebah hanya hinggap di tempat yang bersih dan hanya memakan sari pati bunga yang thayyib. Bagi pendidik, ini bermakna kita harus selektif dalam menyerap ilmu dan informasi. Pendidik yang hanya mengisi dirinya dengan hal-hal positif akan memiliki “bahan bakar” yang baik untuk mengajar.

  2. Menghasilkan Manfaat (Output yang Menyembuhkan)
    Apa yang dikeluarkan lebah adalah madu yang menjadi obat bagi manusia. Pendidik harus memastikan bahwa ilmu dan didikan yang diberikannya menjadi “obat” bagi kebodohan dan kerusakan akhlak, serta bermanfaat luas bagi masyarakat.

  3. Profesional & Tidak Merusak (soft approach)
    Ketika hinggap di ranting, lebah tidak mematahkannya. Ini adalah simbol kelembutan dan profesionalisme. Seorang pendidik harus mampu masuk ke dalam dunia anak didik atau sistem sekolah tanpa merusak mental anak atau merusak tatanan yang ada, justru kehadirannya memperindah.

  4. Membangun Sistem yang Kokoh (Hexagonal)
    Lebah memiliki naluri membangun sarang berbentuk heksagonal, bentuk geometri yang paling kuat, stabil, dan efisien tanpa celah. Ini mengajarkan pendidik untuk membangun fondasi karakter siswa dan sistem pendidikan yang solid, tidak rapuh, dan saling menguatkan satu sama lain (bersatu).

Redefinisi Profesionalisme: Itqan dalam Islamic Worldview

Selanjutnya, Dr. Wido melakukan dekonstruksi terhadap konsep “profesionalisme” yang selama ini sering dipahami secara sekuler—sekadar bekerja sesuai Job Description (JobDesc) demi upah.

Dalam Islamic Worldview (Pandangan Alam Islam), bekerja adalah aktivitas ibadah yang tidak terputus dari pengawasan Ilahi. Profesionalisme dalam Islam dikenal dengan istilah itqan (ketuntasan/kesempurnaan),” ujarnya.

Etos kerja seorang Muslim, khususnya guru (muaddib), dibangun di atas tiga pilar karakter utama: Jujur (Shiddiq), Amanah (Terpercaya), dan Tanggung Jawab (Mas’uliyyah). Ketiga karakter ini bukan sekadar moralitas sosial, melainkan konsekuensi logis dari akidah yang lurus.

Tadabbur Surah At-Taubah [9] Ayat 105: Bekerja dalam “Etalase” Ilahi

Puncak dari daurah ini adalah sesi tadabbur mendalam terhadap ayat tentang etos kerja. Dr. Wido mengajak peserta menyelami makna ayat tersebut secara gramatikal dan maknawi.

Allah ﷻ berfirman dalam Surat At-Taubah [9] ayat 105:

وَقُلِ ٱعۡمَلُواْ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمۡ وَرَسُولُهُۥ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

“Katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.’” (Q.S. At-Taubah [9]: 105)

Dr. Wido menggarisbawahi frasa “Fasayarallahu ‘amalakum” (Maka Allah akan melihat pekerjaanmu). Ayat ini memberikan peringatan keras sekaligus motivasi tingkat tinggi. Setiap detik guru mengajar, setiap lembar administrasi yang dibuat, dan setiap layanan yang staf berikan, sesungguhnya sedang berada di ‘etalase’ penglihatan Allah.

Implikasi ilmiah dari ayat ini bagi civitas akademika An Nahl adalah:

  1. Visi Transendental: Guru tidak bekerja untuk Kepala Sekolah atau Yayasan semata, melainkan untuk Allah. Ini melahirkan keikhlasan yang kokoh.
  2. Audit Spiritual: Sebelum diaudit oleh HRD atau Litbang, seorang mukmin telah mengaudit kinerjanya sendiri karena sadar akan Muraqabatullah (pengawasan Allah).
  3. Standar Kualitas: Haram hukumnya bagi seorang mukmin memberikan kualitas kerja yang “asal-asalan” karena pekerjaan tersebut dipersembahkan kepada Zat Yang Maha Indah.

Keterpaduan Pengadaban: Mengejar Akreditasi ‘A’ dari Allah

Pada sesi pamungkas, Dr. Wido menekankan pentingnya keterpaduan (integrated system) antar seluruh elemen sekolah. Ia mengingatkan bahwa pendidikan adab tidak bisa dipikul sendirian oleh guru kelas.

Sekolah ini adalah satu tubuh. Satpam yang menyambut siswa di gerbang, staf tata usaha yang melayani administrasi, petugas kebersihan yang menjaga kesucian area shalat, hingga guru di kelas, semuanya adalah Muaddib (Pendidik) dalam kapasitasnya masing-masing. PTK harus memiliki kesatuan visi dan misi untuk saling menguatkan,” jelasnya.

Lebih jauh, ia menyampaikan sebuah target yang melampaui standar administratif duniawi. Meskipun akreditasi dari badan akreditasi nasional itu penting, ada yang jauh lebih esensial.

“Jangan hanya sibuk mengejar Akreditasi ‘A’ dari pemerintah, namun melupakan penilaian Langit. Cita-cita tertinggi civitas An Nahl seharusnya adalah mendapatkan Akreditasi ‘A’ dari Allah SWT. Akreditasi ini hanya bisa diraih jika seluruh komponen sekolah bekerja dengan hati yang ikhlas, sistem yang jujur, dan kualitas layanan yang mumtaz (istimewa),” tambahnya.

Itqan: Standar Kerja Pecinta Allah

Melengkapi landasan tersebut, Dr. Wido mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, yang menjadi standar operasional prosedur (SOP) langit bagi setiap pegawai Muslim:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian bekerja, ia melakukannya dengan itqan (profesional/tekun/terbaik).” (H.R. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, No. 5312)

Kata kunci Itqan bermakna exactitude (ketepatan) dan excellence (keunggulan). Seorang guru yang Itqan tidak akan masuk kelas terlambat, tidak akan mengajar tanpa persiapan, dan tidak akan membiarkan administrasi berantakan, karena ia tahu Allah mencintai ketertiban.

Komitmen Pimpinan dan Harapan Baru

Kehadiran jajaran pimpinan An Nahl Islamic School dalam forum ini menegaskan keseriusan lembaga dalam membangun budaya organisasi berbasis adab. Ustadzah Dety Anggraini selaku Ketua Litbang dan Ustadzah R. Noorbarani selaku Kepala HRD tampak memberikan atensi penuh, mencatat poin-poin krusial untuk pengembangan SDM ke depan.

Dr. Wido menutup sesinya dengan simpulan yang menggugah: “Jika An Nahl ingin terbang tinggi dan bermanfaat bagi semesta seperti lebah, maka bahan bakarnya adalah Adab. Profesionalisme kita adalah jalan menuju surga.”

Daurah berakhir pada pukul 10.30 WIB. Wajah para pendidik memancarkan semangat baru, memahami bahwa menjadi profesional bukan berarti menjadi sekuler, melainkan menjadi hamba Allah yang bekerja dengan kualitas terbaik demi kejayaan Islam.


Institut Adab Insan Mulia

▫️ Web: AdabInsanMulia.org
▫️ Telegram: t.me/sekolahadab
▫️ FB: facebook.com/adabinsanmulia
▫️ IG: instagram.com/adabinsanmulia
▫️ Twitter: twitter.com/adabinsanmulia
▫️ YouTube: www.youtube.com/AdabTVOnline
▫️ WA: https://chat.whatsapp.com/LELTACMjFab7bZm5igQoCB

Admin: wa.me/6287726541098

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button