Jannah Theme License is not validated, Go to the theme options page to validate the license, You need a single license for each domain name.
Institut AIMSekolah Adab Untuk Sekolah

Pendampingan Sekolah At-Taufiq Al-Islamy Tasikmalaya

Sekolah Adab Untuk Sekolah

TASIKMALAYA – “Tidak ada kesuksesan tanpa kelelahan. Maka cintailah kelelahan, kejarlah ia sampai kelelahan itu lelah mengikuti kita. Jangan banyak beristirahat, kecuali kaki ini sudah melangkah di Surga.”

Kalimat bertenaga itu menggema di aula Sekolah At-Taufiq Al-Islamy, Tasikmalaya, membuka rangkaian Workshop dan Pendampingan Guru yang berlangsung selama dua hari, Selasa hingga Rabu (05-06 Januari 2026). Dr. Wido Supraha, M.Si., Pendiri SekolahAdab.ID, hadir membakar semangat puluhan guru yang mayoritas berusia muda dan berstatus fresh graduate.

Kegiatan ini dirancang bukan sekadar sebagai seminar satu arah, melainkan bengkel kerja (workshop) interaktif untuk menjawab dua tantangan besar guru muda: Penguasaan Kelas (Classroom Mastery) dan Komunikasi Efektif dengan Wali Murid.

Menggali Makna “At-Taufiq”: Kesesuaian Kehendak Hamba dengan Kehendak Allah

Sebelum melangkah jauh ke materi teknis, Dr. Wido mengajak seluruh asatidz untuk merenungi kembali nama “At-Taufiq” yang menjadi identitas lembaga ini. Menurutnya, nama adalah doa dan visi, sehingga memahami maknanya adalah langkah awal menyatukan derap langkah pendidik.

“Secara bahasa, At-Taufiq berasal dari akar kata wafaqa yang bermakna kesesuaian, kecocokan, atau keselarasan. Namun secara terminologi akidah, Taufiq memiliki makna yang agung, yaitu terjadinya kesesuaian antara kehendak (iradah) hamba dengan kehendak Allah SWT dalam ketaatan,” papar Wido.

Lebih dalam lagi, beliau mengutip definisi dari Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, bahwa Taufiq adalah: “Alla yakilakallahu ila nafsika” (Allah tidak menyerahkan urusanmu kepada dirimu sendiri).

“Kebalikan dari taufiq adalah khudzlan (penelantaran), yaitu ketika Allah membiarkan manusia bersandar pada akal dan kemampuannya sendiri. Sekolah ini dinamakan At-Taufiq dengan harapan besar, agar seluruh civitasnya senantiasa dibimbing Allah untuk mau dan mampu mengamalkan kebenaran. Bukan sekadar tahu (Hidayah Irsyad), tapi dimampukan untuk beramal (Hidayah Taufiq),” tegasnya.

Pesan ini menjadi pondasi penting: guru di At-Taufiq tidak hanya mentransfer data, tetapi berjuang agar hati santri tergerak melakukan kebaikan.

Filosofi La Rahata Illa Fil Jannah

Dalam sesi pengantar, Dr. Wido menanamkan mindset fundamental bagi para pendidik muda. Mengutip atsar dari Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya kapan seorang hamba beristirahat, beliau menjawab: “‘Inda awwali qadamin yadho’uha fil Jannah” (Saat langkah kaki pertama menginjak Surga).

“Bagi seorang guru, istirahat yang sesungguhnya adalah kematian. Selama nyawa dikandung badan, kita adalah pejuang adab. Jika guru muda sudah mengeluh lelah, maka peradaban akan runtuh sebelum dibangun,” tegas Wido. Filosofi ini menjadi landasan pacu agar para guru tidak cengeng menghadapi dinamika santri yang beragam.

Manajemen Kelas Berbasis Adab: Mengubah Gaduh Menjadi Syahdu

Memasuki materi inti pertama, Dr. Wido membedah konsep Manajemen Kelas Berbasis Adab. Tantangan utama guru muda (fresh graduate) biasanya adalah krisis otoritas—merasa canggung atau kurang disegani oleh siswa.

Secara ilmiah, Dr. Wido menjelaskan bahwa otoritas guru tidak lahir dari usia atau suara keras, melainkan dari Haibah (Wibawa) yang terpancar dari Adab.

  1. Konsep Al-Hazm wa Al-Layyin (Tegas namun Lembut)Manajemen kelas dalam Islam menyeimbangkan dua kutub. Guru tidak boleh otoriter (dictator), tapi juga tidak boleh permisif (lemah).
    • Scientific Approach: Dr. Wido membedah psikologi perkembangan anak, bahwa anak membutuhkan “dinding” (aturan yang tegas) untuk merasa aman, dan “pintu” (kasih sayang) untuk merasa dicintai.
    • Penerapan: Guru dilatih teknik non-verbal cues (isyarat non-verbal) untuk menertibkan kelas tanpa teriak. Cukup dengan tatapan mata (eye contact), diam sejenak (strategic pause), dan posisi tubuh yang tegap.
  2. Adab Mendahului Ilmu di Dalam Kelas“Jangan mulai mengajar sebelum kelas hening dan siap secara adab,” instruksi Dr. Wido. Memaksa materi masuk saat wadah (jiwa murid) belum siap adalah kesia-siaan. Guru diajarkan SOP pembukaan kelas: memastikan shaf duduk rapi, menyingkirkan sampah, dan doa yang khusyu’. Ini adalah proses Takhliyah (pembersihan) sebelum Tahliyah (pengisian).

Komunikasi Wali Murid: Segitiga Cinta (Guru-Murid-Orang Tua)

Materi kedua menyasar kegelisahan guru muda saat berhadapan dengan orang tua siswa yang usianya jauh di atas mereka. Dr. Wido mendekonstruksi ketakutan ini dengan konsep Ukhuwah Tarbiyah.

“Hubungan guru dan wali murid bukanlah hubungan transaksional antara Customer dan Service Provider. Itu adalah mentalitas sekolah sekuler. Di Sekolah Islam, hubungan ini adalah Ta’awun ‘alal birri wat taqwa (Tolong menolong dalam kebaikan),” jelasnya.

Strategi komunikasi yang diajarkan meliputi:

  • The Sandwich Method
    Saat menyampaikan masalah siswa, awali dengan pujian tulus atas potensi anak, sampaikan masalah/tantangan dengan data objektif (bukan asumsi), dan tutup dengan optimisme solusi serta doa bersama.
  • Posisi Setara
    Guru muda harus membuang rasa inferior. Walaupun muda, guru memegang “kunci ilmu” bagi anak tersebut. Orang tua menitipkan anak karena mereka butuh kepakaran guru. Maka, bicaralah dengan data dan kasih sayang, bukan dengan keraguan.

Dalil pendukung yang ditekankan adalah Hadits Nabi ﷺ:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ

“Agama itu adalah nasihat.” (H.R. Muslim No. 55)

Nasihat kepada wali murid adalah bagian dari agama, dilakukan dengan cara yang ma’ruf (baik) dan layyin (lembut), sebagaimana Allah memerintahkan Musa berbicara kepada Fir’aun.

Workshop Interaktif: Simulasi Kasus

Sesuai permintaan pihak sekolah, sesi ini didominasi oleh simulasi (role play). Para guru dibagi ke dalam kelompok kecil untuk memecahkan studi kasus nyata. Di antara kasus yang perlu dikembangkan solusinya, seperti:

  • Kasus 1: Menangani siswa yang tantrum atau “Mencari Perhatian” (Caper) di tengah pelajaran tanpa emosi, melainkan dengan pendekatan Ta’dib.
  • Kasus 2: Menghadapi wali murid yang komplain karena anaknya ditegur. Guru berlatih merespons dengan tenang, mendengarkan aktif (active listening), dan memberikan klarifikasi berbasis adab.

Penutup: Lahirnya Generasi Muaddib

Kegiatan dua hari ini ditutup pada Rabu sore dengan komitmen bersama. Wajah-wajah lelah namun mulai memahami nikmatnya perjuangan, terpancar dari para guru At-Taufiq Al-Islamy. Mereka kini mulai memahami bahwa menjadi guru bukan sekadar pekerjaan menunggu gaji bulanan, melainkan misi kenabian yang menuntut totalitas.

Kelelahan kalian hari ini adalah tabungan kemuliaan di akhirat. Teruslah mendidik, sampai Allah sendiri yang menyuruh kita berhenti,” pungkas Dr. Wido menutup sesi pendampingan tersebut.

Dengan bekal manajemen kelas berbasis adab dan teknik komunikasi yang elegan, Sekolah At-Taufiq Al-Islamy Tasikmalaya kini siap melangkah lebih jauh dalam mencetak generasi beradab.


Institut Adab Insan Mulia

▫️ Web: AdabInsanMulia.org
▫️ Telegram: t.me/sekolahadab
▫️ FB: facebook.com/adabinsanmulia
▫️ IG: instagram.com/adabinsanmulia
▫️ Twitter: twitter.com/adabinsanmulia
▫️ YouTube: www.youtube.com/AdabTVOnline
▫️ WA: https://chat.whatsapp.com/LELTACMjFab7bZm5igQoCB

Admin: wa.me/6287726541098

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button