Jannah Theme License is not validated, Go to the theme options page to validate the license, You need a single license for each domain name.
Konsolidasi Iman Adab MuaddibTa'dib

KIAM#48 | Sharing Peluncuran Buku Prof. Wan Mohd. Noor Wan Daud

Konsolidasi Iman Adab Muaddib

1. Pendahuluan

KIAM (Konsolidasi Iman Adab Muaddib) adalah program 30 menit untuk saling menguatkan di antara para penggerak dan praktisi pendidikan yang bersepakat bahwa pendidikan harus dijalankan berorientasikan adab. Program ini berjalan setiap Senin malam, pukul 20.00 WIB, disesuaikan dengan perubahan waktu ‘Isya, dan program ini bersifat TERBUKA dan dapat diikuti oleh para pendidik secara UMUM untuk saling menguatkan di jalan pendidikan berorientasi Adab. Program ini mereferensikan materinya dengan kitab-kitab adab yang telah ditulis oleh para ulama untuk kemudian dikontekstualisasikan pada era digital hari ini.

Pada KIAM#48 ini adalah sharing dari Ustadzah Laeliah (Guru SMPAdab.ID) pada kegiatan Peluncuran Buku Prof. Wan Mohd. Noor Wan Daud di Hotel Bumi Wiyata Kota Depok, berjudul Pohon Kebaikan: Peradaban Fadilah.

Dalam diskursus keilmuan Islam, puncak dari kematangan seorang ulama sering kali ditandai dengan kemampuannya melahirkan karya sastra yang sarat makna. Sebagaimana Imam Asy-Syafi’i yang memiliki Diwan, para cendekiawan Muslim terdahulu menjadikan puisi sebagai medium untuk menyematkan hikmah yang melampaui batas zaman. Hal serupa tercermin dalam karya terbaru Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, seorang cendekiawan Muslim terkemuka asal Malaysia dan murid senior Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, yang berjudul “Pohon Kebaikan: Peradaban Fadilah”.

Buku ini bukan sekadar antologi puisi, melainkan manifestasi dari perjalanan intelektual dan spiritual penulisnya. Ia adalah “puisi pemikiran” yang merespons tantangan zaman, sekaligus ikhtiar untuk membangungkan kesadaran umat—yang oleh Prof. Khalif Muammar diumpamakan sebagai “singa yang sedang tertidur”.

2. Metafora Pohon: Tauhid sebagai Akar Peradaban

Filosofi utama yang diangkat dalam karya ini adalah metafora “Pohon Kebaikan”. Dalam perspektif pendidikan Islam (Ta’dib), sebuah peradaban yang kokoh tidak tumbuh dari ruang hampa, melainkan harus memiliki struktur organik yang jelas:

  1. Akar (Tauhid): Fondasi utama yang menopang seluruh bangunan kehidupan. Tanpa akar tauhid yang kuat, pohon peradaban akan rapuh dan mudah tumbang oleh badai pemikiran asing.

  2. Batang dan Dahan (Ilmu yang Beradab): Pertumbuhan pohon direpresentasikan oleh ilmu pengetahuan yang dipandu oleh adab. Ilmu tanpa adab bersifat destruktif, sedangkan adab tanpa ilmu adalah kehampaan.

  3. Buah (Manusia yang Bermanfaat): Hasil akhir dari proses pendidikan adalah lahirnya manusia yang memberikan kebermanfaatan (naf’) bagi semesta.

Metafora ini menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak bisa dipisahkan dari pandangan alam (worldview) Islam yang berpusat pada Tuhan.

3. Sejarah sebagai Prinsip, Bukan Sekadar Narasi

Salah satu poin krusial dalam diskusi bedah buku ini adalah cara pandang terhadap sejarah (Sirah Nabawiyah). Sejarah sering kali direduksi hanya sebagai hafalan nama dan peristiwa. Padahal, dalam karya Prof. Wan, sejarah dihadirkan sebagai prinsip-prinsip kehidupan yang kokoh dan kekal.

Puisi berjudul “Satu Tindakan Merubah Sejarah” mengingatkan kita pada “titik-titik kecil” yang mengubah dunia: keteguhan istri Firaun menyelamatkan Musa, perjalanan Ibrahim dan Hajar yang melahirkan peradaban Makkah, hingga ketenangan Abu Bakar As-Siddiq yang menentramkan jiwa para sahabat saat wafatnya Rasulullah.

Bagi generasi kontemporer yang hidup di era disrupsi digital, di mana figur keteladanan sering kali tergeser oleh idola budaya pop (seperti fenomena K-Pop), pengembalian narasi sejarah sebagai role model menjadi sangat urgen. Guru sejarah dan pendidik Islam memiliki tugas berat untuk mentransformasi sejarah dari “cerita masa lalu” menjadi “ruh perjuangan masa kini”.

4. Transformasi Pendidikan: Knowing, Becoming, Being

Dalam konteks pedagogis, karya sastra ini memberikan pesan mendalam bagi para Muaddib (pendidik). Pendidikan tidak boleh berhenti pada tahap transfer of knowledge (mengetahui). Ia harus bergerak menuju becoming (berproses/berubah), dan bermuara pada being (menjadi).

Tujuannya adalah mencetak Insan Adab. Proses ini membutuhkan keteladanan guru. Guru harus menyadari bahwa pendidikan adalah akumulasi dari “kata-kata terbaik” (qaulan sadida). Jika ulama besar menutup karir keilmuannya dengan karya sastra yang indah, maka seorang guru harus mengisi ruang kelasnya dengan diksi-diksi yang membangun jiwa.

Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, yang disebut oleh Habiburrahman El Shirazy sebagai sosok Sufi Muharik (Sufi yang Menggerakkan), menunjukkan bahwa kedalaman spiritual (tasawuf) dan semangat pergerakan (harakah) dapat disatukan melalui keindahan bahasa.

5. Kesimpulan

Buku “Pohon Kebaikan: Peradaban Fadilah” adalah pengingat bahwa kebangkitan peradaban Islam dimulai dari perbaikan cara pandang terhadap ilmu dan bahasa. Bagi para pendidik di Indonesia, karya ini menyerukan agar kita kembali menanamkan adab sebelum ilmu, menjadikan Rasulullah SAW sebagai satu-satunya standar keteladanan, dan memaknai setiap aktivitas pendidikan sebagai upaya menanam benih peradaban yang akarnya menghunjam ke bumi (tauhid) dan cabangnya menjulang ke langit (kemuliaan).

Sebagai penutup, mengutip semangat dari puisi tersebut: satu tindakan kecil dari seorang guru di ruang kelas yang sunyi, bisa jadi adalah titik awal lahirnya perubahan besar dalam sejarah umat manusia di masa depan.


Institut Adab Insan Mulia

▫️ Web: AdabInsanMulia.org
▫️ Telegram: t.me/sekolahadab
▫️ FB: facebook.com/adabinsanmulia
▫️ IG: instagram.com/adabinsanmulia
▫️ Twitter: twitter.com/adabinsanmulia
▫️ YouTube: www.youtube.com/AdabTVOnline
▫️ WA: https://chat.whatsapp.com/LELTACMjFab7bZm5igQoCB

Adminwa.me/6287726541098

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button