Jannah Theme License is not validated, Go to the theme options page to validate the license, You need a single license for each domain name.
Institut AIMSekolah Adab Untuk Sekolah

Pendampingan Awal Tahun Raker Ma’had Qur’an Mush’ab bin Umair Jakarta

Sekolah Adab Untuk Sekolah

JAKARTA – Suasana khidmat penuh semangat mewarnai pembukaan Rapat Kerja (Raker) Semester Genap Tahun Ajaran 2025/2026 di Ma’had Qur’an Mush’ab bin Umair. Pada Senin pagi (05/01/2026), seluruh asatidz dan pengelola, baik dari program Full Day maupun Boarding, berkumpul mulai pukul 07.45 hingga 09.30 WIB untuk menyerap energi baru sebelum menyusun strategi pendidikan satu semester ke depan.

Dr. Wido Supraha, M.Si., Pendiri SekolahAdab.ID, hadir sebagai pembicara utama untuk meletakkan fondasi pemikiran (philosophical grounding) bagi para pendidik. Dengan tema besar “Menjadi Guru Jiwa Pemimpin dan Profesional: Dari Amanah Menuju Itqan“, Wido mengajak peserta untuk menelusuri jejak spiritual patron ma’had ini, yakni Sahabat Mulia Mush’ab bin ‘Umair Radhiyallahu ‘Anhu.

Mush’ab bin ‘Umair: Prototipe “The Golden Teacher

Dr. Wido membuka sesinya dengan narasi yang menggugah tentang siapa sebenarnya Mush’ab bin ‘Umair. Ia menegaskan bahwa menyematkan nama “Mush’ab bin Umair” pada institusi pendidikan memiliki konsekuensi berat sekaligus mulia.

Mush’ab bukanlah sekadar pemuda tampan yang meninggalkan kemewahan Mekkah demi Islam. Lebih dari itu, beliau adalah Duta Pertama (The First Envoy) yang diutus Rasulullah ﷺ ke Yatsrib (Madinah). Beliau adalah prototipe guru yang sukses melakukan Fathul Qulub (penaklukan hati) sebelum Fathul Buldan (penaklukan negeri),” jelas Wido.

Pelajaran strategis bagi Ma’had Qur’an Mush’ab bin Umair adalah:

  1. Guru sebagai Perintis (Pioneer)
    Mush’ab datang ke Madinah bukan untuk sekadar menyetor hafalan, tetapi menyiapkan basis sosial masyarakat (social preparedness) untuk menyambut Hijrah Nabi. Artinya, guru di Ma’had ini tidak boleh hanya fokus pada target hafalan santri, tetapi harus bervisi melahirkan pemimpin yang siap membangun peradaban.
  2. Transformasi Total
    Mush’ab mengubah masyarakat Yatsrib yang penuh konflik menjadi kaum Anshar yang penuh cinta. Guru Rumah Qur’an harus mampu mengubah karakter santri, bukan hanya memindahkan ayat dari mushaf ke ingatan.

Guru Berjiwa Pemimpin: Kullukum Ra’in

Dalam sesi selanjutnya, Dr. Wido menekankan bahwa setiap pendidik adalah pemimpin. Jiwa kepemimpinan (leadership soul) harus mendahului keterampilan mengajar. Mengutip Hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, beliau mengingatkan:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpinnya.” (H.R. Al-Bukhari No. 893 dan Muslim No. 1829)

Kepemimpinan dalam pendidikan bukan tentang jabatan struktural kepala sekolah. Kepemimpinan adalah tentang Pengaruh (Influence). Ketika seorang guru masuk ke kelas, apakah kehadirannya membawa aura wibawa yang membuat santri segan dan cinta, atau justru diremehkan? Guru yang berjiwa pemimpin tidak butuh teriak untuk didengar,” tegas Wido.

Eskalasi Kualitas: Dari Sekadar Amanah Menuju Itqan

Inti dari materi pembekalan Raker ini adalah menaikkan standar kerja para asatidz. Dr. Wido menjelaskan dua level kinerja dalam Islam: level dasar (Amanah) dan level puncak (Itqan).

1. Level Amanah: Menunaikan Kewajiban Amanah adalah kesadaran bahwa tugas mendidik adalah titipan langit yang berat. Allah ﷻ berfirman dalam Surat Al-Ahzab [33] ayat 72:

إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱlۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَيۡنَ أَن يَحۡمِلۡنَهَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡهَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَٰنُۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومٗا جَهُولٗا

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 72)

Menjadi guru yang amanah berarti datang tepat waktu, mengajar sesuai jadwal, dan tidak korupsi waktu. Namun, ini baru level standar. Ma’had ini tidak boleh puas hanya di level ini,” ujar Wido.

2. Level Itqan: Profesionalisme Berbasis Cinta Dr. Wido mendorong seluruh peserta Raker untuk naik kelas menuju Itqan. Jika amanah adalah menggugurkan kewajiban, maka Itqan adalah menyempurnakan kualitas karena cinta kepada Allah.

“Seorang guru yang Itqan akan mempersiapkan materi mengajarnya dengan detail, memperhatikan setiap ekspresi santrinya, dan tidak akan membiarkan satu kesalahan pun lewat tanpa koreksi yang penuh kasih sayang. Ia bekerja melampaui ekspektasi administratif,” tambahnya.

Beliau kembali menguatkan dengan Hadits Nabi ﷺ:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian bekerja, ia melakukannya dengan itqan (profesional/tekun/terbaik).” (H.R. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, No. 5312)

Penutup: Refleksi Raker

Sesi diakhiri pada pukul 09.30 WIB dengan doa dan muhasabah. Kehadiran Dr. Wido Supraha telah menyuntikkan paradigma baru bagi Rapat Kerja Ma’had Qur’an Mush’ab bin Umair.

Para asatidz kini memahami bahwa Raker bukan sekadar menyusun kalender akademik, melainkan merancang strategi untuk melahirkan “Mush’ab-Mush’ab” baru di era digital. Generasi yang tidak hanya hafal Al-Qur’an, tetapi juga memiliki adab yang tinggi, jiwa kepemimpinan yang matang, dan profesionalisme yang mumpuni.


Institut Adab Insan Mulia

▫️ Web: AdabInsanMulia.org
▫️ Telegram: t.me/sekolahadab
▫️ FB: facebook.com/adabinsanmulia
▫️ IG: instagram.com/adabinsanmulia
▫️ Twitter: twitter.com/adabinsanmulia
▫️ YouTube: www.youtube.com/AdabTVOnline
▫️ WA: https://chat.whatsapp.com/LELTACMjFab7bZm5igQoCB

Admin: wa.me/6287726541098

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button