Adab dan Ta’dib

Sesi Jawhari yang diikuti oleh pengurus Yayasan Adab Insan Mulia pada malam ini, Jum’at (31/07/2026), membahas pemikiran Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas tentang pendidikan Islam, khususnya pada halaman 22–27. Fokus utama diskusi adalah konsep adab, kritik terhadap penggunaan istilah tarbiyah sebagai istilah pendidikan Islam, serta perbandingannya dengan akar Latin dari kata “education”.
1. Makna Adab Menurut al-Attas
Menurut al-Attas, adab terdiri dari dua unsur penting, yaitu pengenalan (recognition) dan pengakuan (acknowledgement). Pengenalan berarti seseorang mengetahui hakikat sesuatu, sedangkan pengakuan berarti seseorang menempatkan sesuatu sesuai dengan kedudukan yang benar melalui tindakan yang tepat.
Dua unsur ini selaras dengan rumusan Al-Qur’an: iman dan amal saleh. Iman mencerminkan pengenalan terhadap kebenaran, sementara amal saleh mencerminkan pengakuan yang diwujudkan dalam perbuatan.
Jika seseorang memiliki pengenalan tanpa pengakuan, maka hal itu dapat melahirkan kesombongan. Contohnya adalah Iblis, yang mengenal Allah dan memiliki pengakuan terhadap tauhid, tetapi tidak mengakui kedudukan Adam sebagaimana diperintahkan Allah. Sebaliknya, pengakuan tanpa pengenalan hanya menjadi tindakan tanpa ilmu, sehingga tidak dapat disebut sebagai pengetahuan yang benar.
2. Definisi Formal Adab
Al-Attas mendefinisikan adab secara ringkas sebagai:
“Disiplin tubuh, akal, dan jiwa.”
Secara lebih luas, adab adalah pengenalan dan pengakuan terhadap kenyataan bahwa ilmu dan wujud tersusun secara hierarkis menurut derajat dan tingkatannya masing-masing. Adab juga berarti mengetahui dan mengakui tempat yang tepat bagi diri seseorang dalam hubungan dengan susunan realitas tersebut, termasuk dalam aspek fisik, intelektual, dan spiritual.
Dengan demikian, “tempat yang tepat” tidak hanya merujuk pada posisi seseorang dalam tatanan sosial-politik manusia, tetapi juga dalam tatanan ilmu dan keberadaan. Setiap ilmu, makhluk, dan realitas memiliki kedudukan tertentu yang harus dikenali dan diakui.
3. Hadis Adabani Rabbi dan Istilah Ta’dib
Diskusi juga membahas hadis:
Adabani Rabbi fa-ahsana ta’dibi
“Tuhanku telah mendidikku, maka Dia menyempurnakan pendidikanku.”
Al-Attas memaknai hadis ini sebagai proses Allah menanamkan kepada Nabi kemampuan untuk mengenali dan mengakui tempat yang benar bagi segala sesuatu dalam susunan penciptaan. Dari sini, al-Attas menegaskan bahwa istilah yang paling tepat untuk pendidikan dalam Islam adalah ta’dib, bukan tarbiyah.
Ta’dib menunjukkan proses pendidikan yang mencakup pembentukan adab, yaitu penempatan ilmu, diri, dan realitas pada kedudukannya yang benar. Pendidikan Islam bukan sekadar pengembangan kemampuan, tetapi pembentukan manusia yang mengenal dan mengakui kebenaran secara tepat.
4. Kritik terhadap Istilah Tarbiyah
Al-Attas mengkritik penggunaan istilah tarbiyah sebagai istilah utama bagi pendidikan Islam. Menurutnya, tarbiyah adalah istilah yang relatif baru dan banyak digunakan oleh kalangan modernis sejak sekitar pertengahan hingga akhir abad ke-19.
Beberapa tokoh modernis yang disebut dalam diskusi antara lain Muhammad Abduh, Hussein di Mesir, Qasim Amin, dan Fatima Mernissi. Al-Attas menilai bahwa penggunaan tarbiyah oleh kalangan modernis cenderung membawa konsep pendidikan Barat ke dalam wacana Islam, tanpa merujuk secara tepat kepada hakikat pendidikan menurut pandangan Islam.
Meskipun sebagian pihak mengaitkan tarbiyah dengan istilah-istilah Qur’ani seperti Rabbil ‘alamin, rabbani, dan warham huma kama rabbayani, al-Attas menganggap hal tersebut sebagai dugaan semata. Menurutnya, pandangan ini menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap struktur semantik konsep-konsep dalam Al-Qur’an.
Karena itu, secara semantik, tarbiyah dianggap tidak memadai dan tidak tepat untuk mewakili konsep pendidikan Islam.
5. Akar Latin “Education” dan Perbedaannya dengan Ta’dib
Diskusi kemudian membandingkan istilah pendidikan dalam tradisi Barat dengan konsep Islam. Kata “education” berasal dari istilah Latin educare dan educatio, yang bermakna mengeluarkan, mengembangkan potensi laten, atau menampakkan kemampuan yang tersembunyi.
Namun, makna ini pada dasarnya berkaitan dengan hal-hal yang bersifat fisik dan material. Bahkan, cakupannya tidak hanya terbatas pada manusia sebagai makhluk rasional, tetapi juga dapat berlaku pada spesies hewan. Jika konsep ini ditambah dengan pelatihan intelektual atau moral, orientasinya tetap cenderung diarahkan kepada tujuan fisik, material, dan sosial dari manusia sekuler.
Dalam pandangan Islam, keterampilan dan pengetahuan saja belum cukup untuk disebut pendidikan. Pendidikan harus diarahkan kepada pembentukan jiwa spiritual manusia. Karena itu, ta’dib lebih tepat digunakan karena berorientasi pada pembentukan manusia sebagai makhluk yang memiliki dimensi ruhani, bukan sekadar pengembangan potensi fisik dan material.
6. Kesimpulan
Inti pembahasan halaqah ini adalah bahwa pendidikan Islam menurut al-Attas harus dipahami sebagai ta’dib, yaitu proses penanaman adab dalam diri manusia. Adab mencakup pengenalan dan pengakuan terhadap kedudukan yang benar dari ilmu, wujud, diri, dan realitas secara keseluruhan.
Istilah tarbiyah dinilai tidak memadai karena secara semantik tidak mencerminkan hakikat pendidikan Islam. Ia lebih dekat dengan konsep pengembangan atau pertumbuhan yang bersifat fisik-material, dan dalam penggunaannya modern sering dipengaruhi oleh konsep pendidikan Barat.
Tindak Lanjut
Untuk pertemuan berikutnya, peserta diminta membaca dan mempersiapkan bagian selanjutnya dari karya Prof. al-Attas, khususnya pembahasan tentang tiga hujah semantik yang menunjukkan mengapa istilah tarbiyah tidak tepat digunakan sebagai istilah pendidikan dalam tradisi Islam.

Institut Adab Insan Mulia
▫️ Web: AdabInsanMulia.org
▫️ Telegram: t.me/sekolahadab
▫️ FB: facebook.com/adabinsanmulia
▫️ IG: instagram.com/adabinsanmulia
▫️ Twitter: twitter.com/adabinsanmulia
▫️ YouTube: www.youtube.com/AdabTVOnline
▫️ WA: https://chat.whatsapp.com/Gakz8G5jEzTJvv7C0RjMsZ
Admin: wa.me/6287726541098



