Pendidikan Berbasis AdabTa'dib

Apakah Yang Dimaksud Dengan Adab? | Pendidikan Adab di Lembaga Pendidikan Islam di Era Digitalisasi (7)

Pendidikan Adab di Lembaga Pendidikan Islam di Era Digitalisasi

Umumnya hari ini banyak yang mempersepsikan adab sebagai sopan santun an sich. Sehingga persepsi standar kompetensi lulusan (SKL) beradab terbatas hanya pada murid yang sopan santun. Di sisi lain, adab terkadang dimaknai sebagai murid yang berkarakter dan bermoral, namun tidak pernah kritis akan karakter dan moral apa yang akan diinternalisasikan. Nilai (value) apa yang digunakan, karena tidak ada yang bebas nilai (value free), semua terikat dengan nilai (value laden).

Sejatinya, diksi ‘adab’ sudah digunakan oleh orang Arab sejak sebelum wahyu turun. Pada awalnya, adab bermakna undangan jamuan makan. Setelah Islam hadir, diksi ‘adab’ dilanjutkan penggunaannya, namun dimaksudkan dalam konteks pendidikan.

Ketika turun Surat At-Tahrim [66] ayat 6 yang memerintahkan para suami untuk menjaga istri dan anak-anaknya (quu anfusakum), Sayyidina ‘Ali ibn Thalib r.a. menjelaskan bahwa maknanya adalah tegakkan adab dan tanamkan ilmu (addibuhum wa ‘allimuhum) kepada mereka. Sejak saat itulah, konsep adab dulu sebelum ilmu, ta-addabuu tsumma ta’allamuu, sering digunakan di kalangan para sahabat dan tentu di masa generasi selanjutnya.

Secara ringkas berdasarkan kajian mendalam akan penggunaan diksi ‘adab’ dalam sejarah peradaban Islam, disederhanakan maknanya oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas sebagai the discipline of body, mind and soul, yakni hadirnya kedisiplinan jasad, akal dan jiwa. Pendidikan dengan demikian fokus pada membangun kedisiplinan akal, jiwa dan jasad dengan berbagai program turunannya yang bertahap dan dapat dievaluasi.

Ketika adab dimaknai sebagai kedisiplinan, maka pendidikan akan selalu mendahulukan standar kedisiplinan di awal pendidikan, selama proses pendidikan, hingga target akhir pendidikan. Untuk menjalankan seluruh standar kedisiplinan ini tentu harus terbangun ekosistem yang holistik. Oleh karenanya, adab jangan dipersepsikan sebagai pelajaran khusus yang terpisah dari pelajaran lainnya, melainkan bagian yang integral dari keseluruhan.

Ketika Rasulullah SAW menegaskan bahwa sumber adab itu adalah Al-Qur’an dan bahwa Al-Qur’an adalah hidangan adab dari Allah SWT (ma’dubatullah), maka Al-Qur’an jangan juga menjadi pelajaran pelengkap penderita. Al-Qur’an harus menjadi sumber dari segala kebijakan, pemikiran dan ruh dari pergerakan pendidikan. Oleh karenanya, secara ringkas adab dalam pandangan hidup Islam dimaknai sebagai:

    1. Al-Qur’an dengan kandungannya yang merupakan hidangan (ma’dabah)
    2. Kemampuan melakukan the right action (tindakan yang benar)
    3. Kemauan spread the wisdom menyebarkan kebenaran
    4. Kedisiplinan yang meliputi akal, jiwa, dan jasad
    5. Kedisiplinan (adab) dalam proses pendidikan melahirkan murid yang memiliki kedisiplinan (adab)

Depok, 12 September 2022
Dr. Wido Supraha, M.Si. | Direktur Institut Adab Insan Mulia


IKHTISAR

  1. Bukanlah sekedar sopan-santun atau karakter atau moral atau budi pekerti, karena masing-masing belum memiliki nilai (value)
  2. Bukan juga diposisikan sebagai pelajaran khusus yang terpisah dari pelajaran lainnya, melainkan sumber, proses dan tujuan
  3. Adab dalam pandangan hidup Islam bermakna:
    • Al-Qur’an dengan kandungannya yang merupakan hidangan (ma’dabah)
    • Kemampuan melakukan the right action (tindakan yang benar)
    • Kemauan spread the wisdom menyebarkan kebenaran
    • Kedisiplinan yang meliputi akal à jiwa à jasad
    • Kedisiplinan (adab) dalam proses pendidikan melahirkan murid yang memiliki kedisiplinan (adab)

Institut Adab Insan Mulia
▫️ Web: AdabInsanMulia.org
▫️ Telegram: t.me/sekolahadab
▫️ FB: facebook.com/adabinsanmulia
▫️ IG: instagram.com/adabinsanmulia
▫️ Twitter: twitter.com/adabinsanmulia
▫️ YouTube: www.youtube.com/AdabTVOnline
▫️ WA: https://chat.whatsapp.com/LELTACMjFab7bZm5igQoCB

Admin: wa.me/6287726541098

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button