Pesan Untuk Muaddib di SekolahTa'dib

KIAM#2: Ihsanlah Sebagai Pejuang Adab

Konsolidasi Iman Adab Muaddib

KIAM (Konsolidasi Iman Adab Muaddib) adalah program 30 menit untuk saling menguatkan di antara para penggerak dan praktisi pendidikan yang bersepakat bahwa pendidikan harus dijalankan berorientasikan adab. Program ini berjalan setiap Senin malam, pukul 20.00 WIB, dan program ini bersifat TERBUKA dan dapat diikuti oleh para pendidik secara UMUM untuk saling menguatkan di jalan pendidikan berorientasi Adab. Program ini mereferensikan materinya dengan kitab-kitab adab yang telah ditulis oleh para ulama untuk kemudian dikontekstualisasikan pada era digital hari ini.

Pada KIAM#2 ini, tema yang diangkat adalah “Ihsanlah Sebagai Pejuang Adab”. Diksi Ihsan adalah diksi agama yang langsung datang dari Malaikat Jibril a.s. Ketika dahulu Malaikat Jibril a.s. bertanya kepada Rasulullah SAW tentang apa itu Ihsan, dijawab oleh Rasulullah SAW sebagaimana riwayat Muslim no. 8:

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ , فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu.”

Dapat dibayangkan jika seorang Muaddib bergerak dengan keyakinan bahwa Allah SWT selalu melihatnya bahkan apa yang ada di dalam hatinya, sudah barang tentu ia akan memberikan kualitas yang terbaik dalam setiap amalannya, karena hal ini menyangkut harga dirinya di hadapan Allah SWT. Islam memotivasi setiap Muslim untuk bahkan tidak sekedar memenuhi standar minimal yang diharapkan, namun memberikan yang terbaik (excellent) dan men-delivery melebihi harapan (beyond the extra mile). Syed Muhammad Naquib al-Attas menerjemahkan diksi ihsan dengan excellent. Allah SWT mewajibkan ihsan dalam segala amalan, termasuk dalam posisi sebagai Muaddib, sebagaimana riwayat Muslim no. 1955:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ
Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat baik terhadap segala sesuatu.

Seorang Muaddib bekerja bukan sekedar menta’ati Kepala Sekolah (Mudir), namun juga belajar bagaimana berpikir secara holistik seperti Mudir, dalam kapasitasnya sebagai Makmum (yang dipimpin). Maka ciri seorang Muaddib yang ihsani tentunya terlihat dari kinerjanya, kekritisannya, pemikirannya, kerjasamanya, dan hal-hal positif lain dari dirinya.

Penghayatan atas amal ihsani akan mendorong setiap Muaddib untuk:

  1. Membenamkan dalam jiwanya lafazh dan makna dari Visi dan Misi Sekolah yang telah ditetapkan Penyelenggara/Yayasan untuk disukseskan dalam sebuah sistem yang lengkap;
  2. Menjadi Muaddib yang disiplin, dan membenci sifat ketidakdisiplinan, karena adab adalah kedisiplinan;
  3. Menjalankan SOP (Standar Operasi Prosedur) dan Standar Sekolah yang telah ditetapkan;
  4. Menghadirkan kinerja dan menyampaikan hasil yang jauh melampaui harapan;
  5. Tidak bosan mengulang-ulang kaji materi dan menyampaikannya kepada murid untuk penguatan

Selanjutnya, sebaik-baik motivasi untuk beramal ihsani adalah Al-Qur’an al-Karim. Bagilah di pekan ini, setiap hari sebuah ayat motivasi dari Qur’an untuk dapat selalu memberikan yang terbaik dan melampaui harapan. Di antara ayat yang dapat disampaikan adalah:

  1. Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 83
  2. Q.S. Yunus [10] ayat 61
  3. Q.S. An-Nahl [16] ayat 128
  4. Q.S. Asy-Syu’ara [26] ayat 217-220
  5. Q.S. Al-Qashash [28] ayat 77

Hari Pertama: Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 83

وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ لَا تَعْبُدُوْنَ اِلَّا اللّٰهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَّاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَۗ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْكُمْ وَاَنْتُمْ مُّعْرِضُوْنَ ٨٣

Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat.” Tetapi kemudian kamu berpaling (mengingkari), kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang.

Hari Kedua: Q.S. Yunus [10] ayat 61

وَمَا تَكُوْنُ فِيْ شَأْنٍ وَّمَا تَتْلُوْا مِنْهُ مِنْ قُرْاٰنٍ وَّلَا تَعْمَلُوْنَ مِنْ عَمَلٍ

اِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُوْدًا اِذْ تُفِيْضُوْنَ فِيْهِۗ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَّبِّكَ مِنْ مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ وَلَآ اَصْغَرَ مِنْ ذٰلِكَ وَلَآ اَكْبَرَ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ ٦١

Dan tidakkah engkau (Muhammad) berada dalam suatu urusan, dan tidak membaca suatu ayat Al-Qur’an serta tidak pula kamu melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya. Tidak lengah sedikit pun dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah, baik di bumi ataupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu, melainkan semua tercatat dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Hari Ketiga: Q.S. An-Nahl [16] ayat 128

اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَّالَّذِيْنَ هُمْ مُّحْسِنُوْنَ ࣖ ۔ ١٢٨

Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan (kebaikan).

Hari Keempat: Q.S. Asy-Syu’ara [26] ayat 217-220

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيْزِ الرَّحِيْمِ ۙ ٢١٧ الَّذِيْ يَرٰىكَ حِيْنَ تَقُوْمُ ٢١٨ وَتَقَلُّبَكَ فِى السّٰجِدِيْنَ ٢١٩ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ٢٢٠

  1. Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Penyayang.
  2. Yang melihat engkau ketika engkau berdiri (untuk salat),
  3. dan (melihat) perubahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud.
  4. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

Hari Kelima: Q.S. Al-Qashash [28] ayat 77

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ ٧٧

Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.

Semoga Allah SWT memudahkan seluruh Muaddib/ah dalam membangun dan merawat keihsanan dalam jiwa mereka, karena keihsanan seorang Muaddib/ah tentu mengundang semakin terbukanya pintu rahmat Allah.

Depok, 22 Agustus 2022, pukul 20.00-20.30 WIB
Dr. Wido Supraha, M.Si.
(Direktur Institut Adab Insan Mulia)

SekolahAdab.Com

Related Articles

Leave a Reply

Check Also
Close
Back to top button