Institut AIMSekolah Adab Untuk Sekolah

Mengapa Harus Islam? | Pendidikan Adab di Lembaga Pendidikan Islam di Era Digitalisasi (1)

Pendidikan Adab di Lembaga Pendidikan Islam di Era Digitalisasi

Era Digital adalah era dimana informasi begitu mudah diperoleh dengan kuantitas yang begitu banyak yang terdistribusikan melalui jaringan komputer yang terhubung dengan internet cloud. Fakta inilah yang membedakan antara era hari ini dengan era di masa lalu. Tentu saja setiap era ada kekhasannya masing-masing, namun sejatinya pendidikan harus tetap memiliki orientasi yang sama. Jika pendidikan dijalankan oleh sebuah lembaga pendidikan maka tentu saja standar dasarnya pun pastilah tetap sama, apalagi jika paradigma yang dijadikan landasan berpikir dari sebuah konsep pendidikan dan landasan gerak dari sebuah lembaga pendidikan adalah Islam.

Ketika sebuah lembaga pendidikan menggunakan diksi Islam, maka tentu keseluruhan nilai-nilai Islam harus benar-benar menjadi landasan berpikir dan bergerak, paradigma, kerangka berpikir (framework) atau pandangan hidup (worldview). Jangan sampai hanya sebagian nilainya diambil yang dianggap sesuai, sementara sebagian lagi ditinggalkan. Lebih jauh, jangan sampai tanpa sadar Islam hanya dijadikan penguat bagi nilai-nilai lain yang dicenderungi, karena pada saat itu bermakna Islam hanya dijadikan pelengkap penderita.

Sebelum lebih jauh, tentang mengapa Islam yang dipilih. Sudah sepantasnya ini menjadi pertanyaan paling mendasar. Mengapa tidak mengambil nilai-nilai lain? Mengapa harus menggunakan nilai-nilai Islam?

Dalam pandangan hidup Islam (Islamic Worldview), Allah SWT hanya menurunkan Islam sebagai agama bagi makhluk-Nya. Sejak dahulu pemeluknya disebut sebagai Muslim. Allah SWT berfirman dalam penutup surat Al-Hajj [22] ayat 78:

وَجَاهِدُوْا فِى اللّٰهِ حَقَّ جِهَادِهٖۗ هُوَ اجْتَبٰىكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍۗ مِلَّةَ اَبِيْكُمْ اِبْرٰهِيْمَۗ هُوَ سَمّٰىكُمُ الْمُسْلِمِيْنَ ەۙ مِنْ قَبْلُ وَفِيْ هٰذَا لِيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ شَهِيْدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِۖ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاعْتَصِمُوْا بِاللّٰهِ ۗهُوَ مَوْلٰىكُمْۚ فَنِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ ࣖ ۔

Berjuanglah kamu pada (jalan) Allah dengan sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan tidak menjadikan kesulitan untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu, yaitu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu dan (begitu pula) dalam (kitab) ini (Al-Qur’an) agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka, tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah pada (ajaran) Allah. Dia adalah pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.

Dalam rentang sejarah peradaban manusia, telah diturunkan 124.000 Nabi dengan 315 orang Rasul di antaranya. Hal ini merujuk berita kenabian dalam riwayat Ahmad no. 22342 dari Abu Umamah r.a., sebagaimana juga dalam beberapa riwayat lain dari Abu Dzar r.a. dengan redaksi yang menyerupai.

قُلتُ: يا رسولَ اللهِ، كم وَفَّى عِدَّةُ الأنبياءِ؟ قال: مِئةُ ألْفٍ وأربعةٌ وعشرونَ ألْفًا، الرُّسُلُ مِن ذلك ثلاثُ مِئةٍ وخَمسةَ عَشَرَ جَمًّا غَفيرًا

Aku berkata: wahai Rasulullah, ada berapa jumlah Nabi? Rasulullah menjawab: Nabi ada 124.000 orang dan di antara mereka ada para Rasul sebanyak 315 orang, mereka sangat banyak.

Meski banyaknya Nabi dan Rasul yang pernah diutus dalam rentang sejarah, sejatinya mereka mendakwahkan kalimat wahyu yang sama yakni agar manusia beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini sejalan dengan Sila Pertama Pancasila, Berketuhanan Yang Maha Esa, sebagai causa prima. Adapun syari’at yang dibawa, berbeda-beda di antara mereka. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Anbiya [21] ayat 25:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Ilah (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian” (QS. Al-Anbiya: 25).

Islam sebagai agama satu-satunya yang diturunkan Allah SWT dengan kandungan inti yang sama tersebut, tentu mengandung bimbingan yang sempurna untuk dijadikan panduan hidup manusia yang lahir dalam kondisi tidak mengetahui apa-apa. Sudah barang tentu, ketika manusia diciptakan Allah SWT, maka pastilah Allah SWT satu-satunya Dzat Yang Maha Mengetahui tentang bagaimana manusia harus berpikir, bergerak, bersikap dalam kehidupan ini. Nilai-nilai Islam membimbing manusia bagaimana hidup di dunia dengan benar, baik dan penuh kebahagiaan. Nilai inilah yang membedakan motivasi Muslim dengan manusia lainnya yang menggunakan pandangan hidup selain Islam.

Dengan penjelasan di atas, sangat wajar jika seorang Muslim kemudian meyakini bahwa Islam bukanlah agama yang paling benar, tapi cukup disebutkan bahwa Islam adalah agama yang benar. Meyakini Islam agama yang paling benar, bermakna adanya agama lain yang juga benar, dan tentu ini bertentangan dengan iman seorang Muslim. Oleh karenanya, Allah SWT menyebutkan bahwa Islam adalah agama yang ada di sisi Allah, perhatikan surat Ali ‘Imran [3] ayat 19:

اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْ ۗوَمَنْ يَّكْفُرْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ ١٩

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah ialah Islam. Orang-orang yang telah diberi kitab tidak berselisih, kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Siapa yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan(-Nya).

Bagi seorang Muslim, tidak ada yang bebas nilai (value free) dalam kehidupan ini, semuanya pastilah terikat dengan sebuah nilai (value laden). Lebih meyakini kebenaran pada selain Islam hanya akan berujung pada penyesalan mendalam karena telah menyia-nyiakan waktu-waktu produktif manusia. Allah SWT juga berfirman dalam Surat Ali ‘Imran [3] ayat 85:

وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ ٨٥

Siapa yang mencari agama selain Islam, sekali-kali (agamanya) tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.

Maka, ketika Muslim meyakini bahwa Islam adalah agama yang benar, maka keyakinan membawa kepada pemahaman bahwa selain Islam bukanlah jalan kebenaran. Dalam bahasa Al-Qur’an, lawan kebenaran (al-haqq) adalah kesesatan (adh-dhalal) dan kesia-siaan (al-bathil). Allah SWT berfirman dalam Surat Yunus [10] ayat 109:

فَذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّۚ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ اِلَّا الضَّلٰلُ ۖفَاَنّٰى تُصْرَفُوْنَ ٣٢

Maka, itulah Allah, Tuhan kamu yang sebenarnya. Tidak ada setelah kebenaran itu kecuali kesesatan. Maka, bagaimana kamu dipalingkan (dari kebenaran)?

Allah SWT juga berfirman dalam Surat Al-Baqarah [2] ayat 42:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (jangan pula) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahui(-nya).

Tentu saja keyakinan di atas tidak lantas dikonotasikan dengan intoleransi atau radikalisme, karena toleransi itu justru dibangun di atas kesepahaman bahwa manusia tidak bisa bersatu pada hal yang paling asasi namun terbuka luas untuk saling bekerjasama dalam ruang kehidupan. Tentu tidak disebut toleransi, jika dipaksa untuk memiliki keseragaman pemahaman, karena keseragaman tidak membutuhkan toleransi. Toleransi dibangun atas dasar saling membiarkan masing-masing berada pada keyakinan ilmiahnya, dan saling bekerjasama di atas perbedaan yang tidak bisa disatukan yaitu wilayah iman.

Keyakinan bahwa hanya Islam yang benar ini membawa pada cara pandang bahwa Islam satu-satunya sumber referensi paling lengkap untuk memahami tentang hakikat manusia, baik unsur pembentuknya, tujuan penciptaannya, nasib akhirnya, agenda utamanya di dunia, dan pertanyaan mendasar lainnya. Ingat, bahwa pendidikan adalah proses yang mengandung seni dalam mengubah jiwa manusia. Tanpa pemahaman yang benar akan hakikat manusia, sebuah lembaga pendidikan berpotensi mengembangkan kurikulum yang kontra-produktif bagi tumbuh kembang manusia. Semakin seseorang membebaskan dirinya dari pengaruh Tuhan, ia malah semakin terpenjara dengan keterbatasan pengalamannya. Ketika Allah SWT menciptakan manusia, maka bagaimana proses terbaik dalam mendidik manusia, tidak ada jalan lain, kecuali tunduk pada Kalimat Tuhan. [BERSAMBUNG]

Depok, 01 Agustus 2022

Dr. Wido Supraha, M.Si. | Direktur Institut Adab Insan Mulia


IKHTISAR

  1. Islam adalah agama satu-satunya yang diturunkan Allah SWT untuk membimbing manusia bagaimana hidup di dunia dengan benar (life-based learning), agar kelak mendapat hadiah di Akhirat berupa Jannah;
  2. Islam agama yang benar, bukan agama yang paling benar;
  3. Islam adalah satu-satunya ajaran yang mengetahui secara lengkap dan mendalam tentang bagaimana membangun manusia seutuhnya

Institut Adab Insan Mulia
▫️ Web: AdabInsanMulia.org
▫️ Telegram: t.me/sekolahadab
▫️ FB: facebook.com/adabinsanmulia
▫️ IG: instagram.com/adabinsanmulia
▫️ Twitter: twitter.com/adabinsanmulia
▫️ YouTube: www.youtube.com/AdabTVOnline
▫️ WA: https://chat.whatsapp.com/LELTACMjFab7bZm5igQoCB

📞 Admin: wa.me/6287726541098

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button